Wakaf produktif solusi ekonomi islam berbasis sosial kemasyarakatan

By 5 May 2018Artikel

Wakaf produktif atau wakaf tunai merupakan salah satu instrumen ekonomi syariah yang belum banyak diketahui dan dipahami oleh sebagian besar muslim. Padahal instrumen ini akan menjadi salah satu pilar penting dalam ekonomi Islam. Jika telah banyak diterapkan di aspek kehidupan muslim. Prinsip dari penerapan wakaf tunai ini sangat fleksibel sebagai stimulus untuk pengembangan ekonomi islam berbasis ekonomi kerakyatan.

Seperti yang telah kita ketahui bersama instrumen ekonomi islam yang telah banyak kita ketahui antara lain Zakat, Infaq dan Sodaqoh serta Wakaf. Instrumen ini diperkenalkan sebagai instrumen ekonomi yang memiliki dampak sosial di masyarakat dengan prinsip sharing economy. Yakni sistem untuk membagikan kelebihan harta dari suatu kelompok  untuk diberikan kepada kemaslahatan ummat terutama membantu kaum dhuafa maupun untuk keperluan ummat lain.

Namun Wakaf Produktif memiliki porsi tersendiri dalam membangun ekonomi ummat. Alih-alih sebagai instrumen yang tertuju hanya untuk keperluan ibadah. Wakaf produktif memiliki peran yang berbeda. Peran utamanya adalah untuk membangun ekonomi islam dan membuka peluang usaha bagi ummat. Fleksibilitas implementasi Wakaf produktif ini dapat digunakan sebagai stimulus untuk mengembangkan ekonomi syariah ummat muslim secara lebih luas. Jika dibandingkan dengan instrumen seperti Zakat memiliki keterbatasan penyaluran hanya kepada tujuh Asnaf yang telah ditentukan. Serta Infaq dan Sodaqoh umumnya memang dikhususkan untuk kegiatan keagamaan dan membantu kaum dhuafa. Wakaf produktif atau wakaf tunai ini sebenarnya sangat berperan untuk membangun perekonomian islam.

Sedangkan Wakaf yang saat ini lazim kita kenal. Umumnya adalah penyerahaan harta dalam bentuk tanah, atau bangunan untuk dipergunakan untuk pembangunan Masjid, Pendidikan Islam dan Bangunan-bangunan untuk kemaslhatan umat lainnya. Wakaf produktif lebih ditujukan untuk membantu ekonomi islam agar terus berkembang dengan prinsip ekonomi kemasyarakatan berbasis syariah. Oleh karena itu, untuk membangkitkan kembali ekonomi Islam, kita perlu untuk menggali dan menerapkan manfaat wakaf produktif ini di masyarakat.

Inspirasi Wakaf Produktif atau Tunai dari Sahabat Utsman Bin Affan, wakaf produktif yang membangkitkan ekonomi umat muslim dan pahala yang mengalir terus menerus sampai hari kiamat !

Salah satu inspirasi wakaf produktif yang dapat dijadikan suri tauladan adalah cerita sahabat Utsman Bin Affan  yang menyumbangkan hartanya untuk pengembangan ekonomi islam di Madinah. Riwayat ini terjadi saat Nabi Muhammad SAW dan sahabat hijrah pertama kali dari Mekkah ke Madinah. Pada saat itu, terdapat sebuah pasar utama di Madinah yang dikuasai oleh kaum yahudi dan penduduk setempat madinah. Salah satu aset penting yang dimiliki oleh Kaum Yahudi tersebut adalah sebuah sumur yang menjadi sumber kehidupan dan ekonomi di sekitar pasar tersebut. Melihat vitalnya kepemilikan aset tersebut, Rasulullah SAW kemudian berkata kepada para sahabat bahwa, barang siapa mau mengorbankan hartanya untuk membeli sumur tersebut dari warga yahudi. Maka Rasulullah akan menjanjikan pahala yang mengalir secara terus menerus sampai hari kiamat dan Surga dari Allah SWT.

Pada saat itu, Sahabat Utsman Bin Affan tergerak untuk mengorbankan hartanya untuk menebus membeli sumur tersebut dari kaum yahudi. Pada awalnya kaum yahudi menolak, karena memang aset sumur tersebut sangat berharga dan menjadi komoditas utama di madinah pada saat itu. Akhirnya Sahabat Utsman Bin Affan, menawar dengan harga lebih tinggi dan dengan tawaran yang bisa menarik perhatian pemilik sumur tersebut. Sahabat Utsman Bin Affan tidak meminta secara penuh, namun hanya separuh dari kepemilikan sumur tersebut. Pemilik yahudi dan Utsman Bin Affan bisa menjual air dari sumur tersebut secara selang seling. Selisih satu hari. Pada hari pertama Pemilik Yahudi boleh menjual air dari sumur tersebut. Keesokan harinya Utsman Bin Affan dan sahabat yang memiliki hak untuk menjual air sumur tersebut. Dan seterusnya.

Mendapatkan penawaran yang menarik seperti itu, akhirnya pemilik yahudi tersebut menyetujui untuk menjual separuh kepemilikan sumur tersebut kepada Utsman Bin Affan. Ternyata persetujuan tersebut akhirnya membawa keuntungan yang besar bagi perkembangan ekonomi umat islam. Tidak dalam waktu lama, pasar tersebut dapat dikuasai oleh kaum muslimin. Bagaimana caranya?

Karena niat utama Utsman Bin Affan adalah untuk mewakafkan hartanya untuk kepentingan umat muslim. Utsman Bin Affan tidak memikirkan untuk mencari keuntungan dari harta yang telah dia habiskan untuk membeli separuh kepemilikan sumur. Akhirnya ketika hari umat muslim menjual air sumur tersebut ke pasar. Utsman Bin Affan dengan kerelaan hati, menjual harga air sumur jauh lebih murah daripada harga yang sebelumnya dipatok oleh pemilik yahudi. Sehingga lama kelamaan seluruh penduduk di sekitar sumur hanya membeli air ketika jadwal penjualan dilakukan oleh Utsman Bin Affan. Sehingga pada akhirnya pemilik yahudi tersebut, merasa tidak mampu menyaingi apa yang dilakukan Utsman Bin Affan, akhirnya menjual seluruh kepemilikan sumur tersebut kepada Utsman Bin Affan.

Dengan dimilikinya sumber utama penggerak ekonomi di daerah tersebut akhirnya kaum muslimin mulai secara perlahan membangun usaha dan mengembangkan ekonomi Islam di Madinah. Dan akhirnya mereka dapat menguasi pasar yang sebelumnya dikuasai oleh penduduk yahudi Madinah. Masya Allah.

Sampai saat ini kita masih bisa menemui sumur yang dimiliki oleh Utsman Bin Affan tersebut dan seperti janji dari Rasulullah pahala dari wakaf yang diberikan oleh Sahabat Utsman Bin Affan R.A. masih mengalir untuk beliau.

Sumur Raumah, Wakaf dari Ustman Bin Affan

 

Lalu bagaimana penerapan wakaf produktif ini untuk Zaman Now? 

Penerapan prinsip wakaf produktif ini sangat fleksibel. Kita dapat memberikan harta kita baik berupa uang tunai, kepemilikan tanah, kepemilikan bangunan dan harta lain untuk di wakafkan demi pembangunan ekonomi umat. Dalam akad perjanjian yang dibuat, kita diperkenankan untuk mewakafkan harta kita kepada pengelola wakaf tersebut untuk selanjutnya dikembangkan melalui sebuah usaha yang tidak melanggar ajaran agama.

Hasil keuntungan dari pelaksanaan usaha tersebut akan direinvestasikan lagi. Sehingga nilai pahala wakaf yang telah kita lakukan insyaallah akan terus bertambah dari waktu ke waktu. Bahkan dalam akad tersebut kita diperbolehkan untuk mengatur pembagian hasil keuntungan. Umpama dari bagi hasil yang diperoleh dari usaha tersebut. 30% kita minta sebagai pendapatan hasil wakaf. Sedangkan 70% akan kita serahkan kembali untuk meningkatkan nilai wakaf kita.

Kita juga diperkenankan untuk mewakafkan dengan batasan waktu. Contohnya, aku akan menyerahkan wakaf harta senilai beberapa rupiah selama 5 tahun. Selama 5 tahun harta itu akan dikelola oleh pengelola wakaf untuk usaha produktif. Sehingga akan mendapatkan keuntungan-keuntungan. Pada tahun kelima, anda bisa menarik wakaf tunai/produktif tersebut kembali menjadi harta anda. Namun pahala wakaf anda terus mengalir dari keuntungan usaha yang dilakukan pengelola wakaf.

Contoh konkrit penerapan wakaf produktif atau tunai ini sudah bisa kita jumpai di negara tetangga kita, Singapura. Terdapat sebuah lembaga pengelola Zakat, Infaq, Sodaqoh dan Wakaf yang saat ini pengelolaan aset Wakafnya sampai senilai 3.5 Triliun rupiah. Mereka mengelola aset wakaf dan wakaf produktif secara profesional dengan menginvestasikan kepada usaha-usaha yang dapat mengembangkan ekonomi islam. Dengan membangun apartemen untuk muslim, Rumah Sakit, dan Usaha lain yang dapat menumbuhkan nilai aset dari wakaf produktif yang telah disalurkan dari ummat. Sehingga lapangan pekerjaan bisa dibuka dengan luas dan ummat islam memiliki nilai kompetitif dalam perekonomian di Singapura.

Subhannallah, ternyata Allah SWT telah mengatur sedemikian rupa, sistem ekonomi yang jika kita terapkan bisa mengembangkan ekonomi islam secara lebih baik.

Semoga kita bisa menerapakan pengelolaan wakaf produktif ini sebagai stimulus untuk membangun ekonomi Islam dan menghadirkan solusi bagi kondisi sosial ekonomi masyrakata muslim. Amin..

Tim kandang.in saat ini mulai menginisiasi pengelolaan wakaf produktif ini dengan salah satu lembaga Islam untuk dikelola dalam usaha agrikultur. Sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan dan membuka peluang ekonomi dengan memanfaatkan pengelolaan wakaf produktif dari masyrakat. Semoga inisiasi tersebut segera dapat direalisasikan. Amiin.

Salam,

Kandang.in Syiar

 

Panelis

Author Panelis

More posts by Panelis

Leave a Reply