Mengenal sistem kerjasama dalam islam : Mudharabah

By 14 April 2018Artikel

Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa dalam Kitab Suci Agama Islam memberikan pedoman hidup di semua lini kehidupan. Tidak terkecuali pedoman dalam menjalankan prinsip ekonomi dalam bermasyarakat. Islam mengatur sistem kerjasama yang adil dan transparan untuk menjamin terjadinya kerjasama yang baik antara pihak-pihak yang bekerjasama.

Pada pembahasan kali ini kami ingin mengupas mengenai sistem kerjasama dalam ekonomi Islam yang menggunakan Akad Mudharabah. Mudharabah sendiri menurut ulama fikih muamalah sering disebut juga dengan istilah “Qiradh” yang artinya harfiah-nya memotong. Yang dimaksudkan bahwa pemilik modal memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dengan tujuan memperoleh sebagian keuntungan.

Sedangkan arti Akad Mudharabah sendiri merupakan sebuah kesepakatan kerjasama antara pemilik modalĀ  (shahibul amal) kepada pengelola (mudharib). Dengan suatu perjanjian yang telah dipesakati di awal. Bentuk kerjasama ini menegaskan prinsip kerjasama dengan kontribusi 100 persen dari pemilik modal dan mempercayakan pengelolaan modal berdasarkan keahlian dari pengelola atau pelaku usaha.

Dalam akad Mudharabah, jika terjadi kerugian maka kerugian keuangan ditanggung oleh pemilik modal. Pemilik modal tidak diperkenankan untuk meminta jaminan bahwa modal yang diberikan harus dikembalikan kepada pemilik modal jika terjadi suatu kerugian akibat usaha yang dilakukan bersama. Di lain pihak, pihak pengelola dilarang untuk mengambil/memotong keuntungan diawal. Keuntungan akan dibagi berdasarkan nisab perjanjian yang telah disepakati di awal. Dapat berupa persentase bagi hasil dari keuntungan. Serta jelas masa perjanjian kerjasama yang akan dilakukan.

Walaupun pihak pemodal tidak diperkenankan untuk meminta jaminan pengembalian modal jika terjadi kerugian. Namun pengelola modal diperkenankan untuk menjanjikan garansi kepada pemilik modal. Hal ini disesuaikan dengan keahlian pengelola modal dalam melakukan usaha dan manajemen resiko.

Selain itu, dalam akad mudharabah tidak diperkenankan untuk memberikan fixed return dari hasil kerja sama. Baik berupa janji nilai nominal uang maupun persentase dari permodalan. Nilai bagi hasil harus dikalkulasi secara transparan dan dihitung dari keuntungan bersih hasil usaha yang dilakukan.

Pemilik modal dapat memberikan proyeksi kalkulasi potensi bagi hasil sesuai dengan hasil analisa dan keahlian yang dimiliki. Namun nilai proyeksi ini hanya dapat digunakan sebagai informasi. Tidak diperkenankan dituangkan dalam perjanjian kerjasama. Nilai bagi hasil bisa lebih tinggi dari proyeksi maupun lebih rendah dari proyeksi keuntungan. Dengan mekanisme seperti ini maka akan menjadi metode yang adil bagi pelaku usaha maupun pemilik modal. Sehingga pemilik modal terhindar dari Riba dalam proses penyertaan modal yang dilakukan.

Akad mudharabah sendiri terbagi menjadi 2 tipe yakni,

Mudharabah muthlaqah: Pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola mengenai usaha yang akan dijalankan. Nasabah tidak ikut campur usaha apa yang mau dijalankan pihak pengelola. Namun nasabah masih boleh mengawasinya.

Mudharabah muqayyadah: Pemilik modal memberikan batasan kepada pengelola, antara lain mengenai tempat, cara dan atau obyek investasi.

Selain itu beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam akad syariah mudharabah adalah,
1. Kerjasama tidak boleh dilakukan untuk kegiatan melanggar hukum atau keburukan.
2. Pelaksanaan usaha tidak diperkenankan untuk dijalankan pada usaha-usaha yang tidak halal, kriminal, dan melanggar hukum.
3. Pengelola wajib untuk memberikan laporan yang transparan kepada pemilik dana tentang alokasi penggunaan dana, pendapatan yang diperoleh dan keuntungan bersih yang telah diperoleh.

Demikian penjelasan singkat mengenai salah satu akad kerjasama dalam syariah islam dengan prinsip bagi hasil keuntungan atau yang dikenal dengan istilah Mudharabah. Skema kerjasama ini sangat baik untuk diterapkan dalam kerjasama yang dilakukan. Karena dengan prinsip mudharabah yang sharing profit dan juga sharing risk. Akan memberikan keadilan dan kesetaraan kedudukan antara pemberi modal dan pengelola.

Semoga kita dapat mulai menjalankan prinsip-prinsip syariah pada kehidupan kita. Amiin.

Jika ada pertanyaan atau diskusi silahkan tuliskan komentar anda.

Salam,

Kandang.in syiar

referensi :
Diolah dari beberapa sumber referensi dan nara sumber.

Panelis

Author Panelis

More posts by Panelis

Leave a Reply