Meneladani cara Rasulullah SAW mengangkat derajat kaum fakir

By 13 October 2018Artikel

Assalamualaikum Wr.Wb.,

Apa kabar kandangers?
Semoga kita senantiasa mendapat perlindungan dari Allah SWT. Amin.

Kali ini tim kandangin syiar akan berbagi sebuah kisah yang sangat inspiratif dan patut kita teladani dari Nabi Besar Muhammad SAW. Topik kali ini menceritakan tentang bagaimana cara Rasulullah mengangkat derajat kaum fakir. Isu ini sangat relevan dengan kondisi kita saat ini. Dimana kita lihat kesenjangan sosial banyak terjadi di lapisan masyarakat. Lalu kita sebagai, alhamdulillah yang diberi karunia rejeki lebih bagaimana cara kita mensikapi isu sosial tersebut?

Ternyata Rasulullah SAW telah memberikan contoh yang sangat efektif untuk kita tauladani.

Dalam suatu riwayat dikisahkan, Pada suatu siang Rasulullah mendapati seorang tamu laki-laki dari kalangan Anshar yang curhat kepada Rasulullah tentang kondisi ekonomi keluarganya. Orang tersebut memiliki istri dan anak, namun tidak memiliki penghasilan sama sekali. Dan dia datang ke Rasulullah untuk mengadukan kondisi yang dia alami tersebut.

Masyaallah, 
ternyata bukan sedekah atau bantuan yang langsung diberikan oleh Rasulullah kepada orang itu. Namun sebuah cara yang sangat mulia dalam mengangkat derajat kaum fakir tersebut.

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada lelaki Anshar tersebut, “Ada sesuatu di rumahmu? ” (harta yang dimiliki)

Lelaki tersebut menjawab, “Ya ada, kami memiliki sehelai kain hilas yang sebagian kami gunakan sebagai pakaian dan alas (tikar) serta cangkir yang kami gunakan untuk minum. ”

Lalu Rasulullah memerintahkan lelaki tersebut untuk membawa harta yang dimiliki tersebut. “Ya, ambillah kedua barang tersebut”

Selanjutnya lelaki tersebut mengambil harta yang dimilikinya tersebut dan kembali ke kediaman Rasulullah.
Rasulullah mengambil barang tersebut lalu mengumumkannya di majlis yang saat itu sedang berkumpul. “Siapa yang sudi membeli barang milik lelaki ini?”

Seseorang di tengah majelis menjawab, “Saya mau membelinya 1 dirham ya Rasulullah”
Nabi diam sejenak, lalu menyerukan kembali untuk menawarkan siapa yang mau membeli dengan harga lebih tinggi. “Siapa mau membeli dengan harga lebih tinggi?” Beliau berseru sampai 3 kali untuk menawarkan barang tersebut di hadapan majelis.

Tak selang berapa lama, ada seorang yang mau menawar dengan harga yang lebih tinggi, “Saya mau membelinya dengan 2 dirham”

Akhirnya harta milik lelaki Anshar tersebut laku dengan harga 2 dirham.

Rasulullah lalu memanggil lelaki Anshar tersebut, “Gunakan 1 dirham dari uang ini untuk kebutuhan keluargamu. Dan 1 dirham yang lain untuk membeli kampak. Lalu berikan kampak itu kepadaku”. Selanjutnya lelaki anshar tersebut membeli kampak dan menyerahkan kepada Rasulullah.

Lalu Rasulullah mengambil kayu dan mengikatkan tali kepadanya. Serta menyerahkan kayu tersebut kepada Lelaki Anshar tersebut. “Belahlah kayu ini jadi kayu bakar dengan kapak itu, lalu juallah dan jangan menemuiku selama 15 hari”

Lelaki Anshar tersebut menerima perintah dan nasehat dari Rasulullah. Dia mengolah pemberian kayu dari Nabi Muhammad dan mengolahnya menjadi kayu. Kemudian menjualnya ke pasar. Dari penjualan kayu bakar tersebut dia mendapatkan 10 Dirham. 5 Dirhamnya dia berikan ke keluarganya untuk membeli pakaian dan makanan. 5 Dirham yang lain dia gunakan untuk membeli kayu untuk dijual kembali. Setelah 15 hari, lelaki Anshar tersebut mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang telah dia lakukan.

Lalu Rasulullah bersabda “Itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta yang akan membuatmu malu pada hari kiamat”.

Kisah yang diriwayatkan oleh HR Abu Dawud diatas, adalah sebuah tauladan yang sangat luar biasa dari Nabi besar Muhammad SAW dalam berinteraksi dengan lapisan masyarakat terlemah. Beliau memberikan motivasi kepada kaum fakir untuk dapat terus berupaya walaupun dengan kondisi yang serba kekurangan. Selain itu beliau juga memberikan langkah dan solusi nyata bagi mereka untuk dapat meningkatkan derajat mereka. Masyaallah… 

Pelajaran dari Rasulullah dari kisah diatas dapat kita refleksikan sebagai enterpreneur. Bahwa dengan segala keterbatasan yang kita miliki, kita harus cerdas mencari jalan keluar untuk mendapatkan peluang untuk menyelesaikan masalah ekonomi yang kita hadapi.

Serta bagi kita yang memiliki kelebihan rejeki, Rasulullah memberi contoh konkret bagi kita yang ingin membantu masyarakat menengah kebawah. Bukanlah dengan memberi bantuan langsung,subsidi dan uang, tapi berikanlah mereka “kapak” agar mereka mampur berdaya dan mandiri. Serta dapat meningkatkan derajat mereka dengan kemampuan mereka sendiri.

Ini lah yang kita kenal dengan sociopreneurship. Bahwa kita berusaha bukan sekedar mencari keuntungan bagi diri sendiri, namun sebisa mungkin memberikan dampak yang luas bagi masyarakat untuk mensejahterakan masyarakat dengan memberikan kesempatan mereka untuk berusaha dan menjadi sukses serta meningkatkan harkat dan martabat hidupnya.

Semoga kita terus dapat mentauladani Rasulullah SAW dalam setiap sendi kehidupan kita. Amiin.

Insyallah bersama kandang.in kita akan menciptakan “kapak-kapak” bagi seluruh peternak skala kecil dan menengah di Indonesia. Agar keberadaan kita berarti bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk Negeri.

Mari dukung peternak dengan permodalan syariah bersama kandang.in.

Akses pemesanan investasi yang berdampak sosial di
https://kandang.in/investment

Salam satu aksi, satu solusi untuk Negeri,

Tim Kandang.in Syiar

 

Panelis

Author Panelis

More posts by Panelis

Leave a Reply