Adab memberikan pinjaman dalam Islam

By 14 September 2018Artikel

Assalamualaikum Kandangers,

Bagi kalian yang seringkali diminta bantuan untuk memberikan pinjaman kepada teman atau saudara. Yuk, kita pelajari bagaimana adab yang baik dalam memberikan pinjaman menurut islam.

Yang pertama, pemberian pinjaman hutang itu adalah bentuk aksi sosial untuk membantu kesulitan orang lain. Maka utamakan hanya memberi ketika kondisi yang mau berhutang dalam kondisi darurat. Karena pinjaman yang baik adalah pinjaman yang bertujuan untuk membantu kesulitan sesama manusia. Jika mereka berhutang untuk keperluan konsumtif. Seperti mau beli motor buat jadi Ojek online, atau dp mobil buat jadi takol, atau bangun rumah. Sebaiknya kita menunda memberi pinjaman hutang. Lebih baik menggunakan akad kerjasama lain.

Namun jika mereka meminjam memang karena kesulitan yang darurat, maka berikanlah pinjaman dengan niat tulus dan ikhlas untuk membantu. Dalam suatu hadist, Rasulullah mengatakan bahwa pinjaman yang meringankan kesedihan (kesulitan) orang lain akan dibalas dengan kemudahan di dunia dan akhirat. Amiin.

Selanjutnya jika kita telah memberi pinjaman, jangan sampai kita meng-hina-kan mereka yang berhutang kepada kita. Jangan menyebarkan aib tentang hutang mereka kepada orang lain. Insyallah Allah akan membalas dengan menutupi aib kita, jika kita juga menutup aib orang lain.

Hadist yang digunakan sebagai rujukan dalam adab keutamaan memberikan pinjaman untuk membantu kesulitan rekan atau saudara kita,

Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhiratAllah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Ketika jangka waktu penagihan tiba, lakukan penagihan dengan cara yang baik. Ingatkan akan hutang yang telah disepakati pembayaran tersebut. Karena jika mereka ingkar padahal dalam kondisi memiliki uang untuk melunasi. Akan menjadi hambatan dalam hisab mereka di hari kiamat. Sebagai rekan yang baik sudah sepatutnya kita saling mengingatkan.

Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)

Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 1965. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Namun jika memang dalam kondisi yang sulit untuk melunasi, berilah tenggang waktu kepada mereka dengan cara yang baik. Dalam suatu hadist, Rasulullah mengatakan bahwa jika ada orang yang memberikan tenggang waktu pembayaran hutang karena terjadi kesulitan pembayaran, Allah akan memberikan naungan ‘Arsy di hari kiamat’.

Allah Ta’ala pun berfirman terkait hal ini dalam surat Al Baqoroh ayat 280

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)

Terdapat pula hadist-hadist yang menyatakan keutamaan memberikan kemudahan atau tenggat waktu pembayaran hutang. Bahkan amalan ini diriwayatkan akan dapat memberikan keringanan saat hisab di hari kiamat nanti.

Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah.” (HR. Muslim no. 3006)

Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan,  dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 86 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

“Beberapa malaikat menjumpai ruh orang sebelum kalian untuk mencabut nyawanya. Kemudian mereka mengatakan, “Apakah kamu memiliki sedikit dari amal kebajikan?” Kemudian dia mengatakan, “Dulu aku pernah memerintahkan pada budakku untuk memberikan tenggang waktu dan membebaskan utang bagi orang yang berada dalam kemudahan untuk melunasinya.” Lantas Allah pun memberi ampunan padanya.” (HR. Bukhari no. 2077)

Yang terakhir, jangan pernah mengambil keuntungan apapun dari pinjaman hutang yang kamu berikan. Karena keuntungan yang kita peroleh dari piutang tersebut termasuk riba. Insyallah, Allah akan memberikan balasan pahala yang jauh lebih besar pada pinjaman yang baik kepada saudara kita dengan niat membantu yang ikhlas.

Jadi bagaimana dengan banyaknya kasus fintech pinjam meminjam yang saat ini sedang viral?

Karena memang tujuan mereka bukan untuk sosial dan lebih kearah mencari keuntungan dengan mempermudah hutang. Tanpa memikirkan apakah hutang itu konsumtif atau untuk membantu kesusahan orang lain. Keberadaan aplikasi online tersebut akan memberikan lebih banyak mudharat dibanding dengan manfaat di masyarakat.

Jika memang tujuannya mendapatkan keuntungan sebaiknya akadnya adalah kongsi (kerjasama) bisnis. Yang akadnya sudah diatur dengan beberapa akad seperti mudharabah. Dengan melakukan pemberdayaan dan kerjasama bisnis yang baik. Insyallah akan menciptakan usaha-usaha yang jauh lebih produktif dan diridhoi oleh Allah. Amiin.

Semoga kita bisa lebih paham tentang muamalah pinjam dan hutang ini.

Salam,

Kandangin Syiar

referensi

https://rumaysho.com/149-mudahkanlah-orang-yang-berutang-padamu.html

Panelis

Author Panelis

More posts by Panelis

Leave a Reply